SMAN 8 Malang menghadirkan nuansa berbeda dalam pelaksanaan Pesantren Ramadan 2026. Selama tiga hari, mulai 25 hingga 27 Februari 2026, seluruh siswa kelas X, XI, dan XII mengikuti rangkaian kegiatan terpadu bertajuk “Satu Spirit”. Program ini dirancang sebagai momentum untuk menyatukan tiga angkatan dalam suasana religius yang penuh kebersamaan di bulan suci Ramadan.
Kepala SMAN 8 Malang, Nuraeni, M.Pd, menyampaikan bahwa konsep ini dihadirkan untuk menghapus sekat antarangkatan dan membangun semangat kolektif di kalangan siswa. “Kami ingin Ramadan tahun ini menjadi ruang bersama bagi seluruh siswa tanpa sekat angkatan. Satu semangat, satu tujuan, yaitu memperbaiki diri dan memperkuat kebersamaan,” ujarnya saat dikonfirmasi pada Selasa (3/3/2026).
Kegiatan dibuka secara khidmat di lingkungan sekolah dengan penekanan pada pentingnya sinergi serta peningkatan kualitas diri. Pihak sekolah memandang Ramadan bukan sekadar agenda rutin tahunan, melainkan sebagai sarana strategis dalam membentuk karakter generasi muda yang berintegritas.
“Ramadan adalah momentum strategis untuk membentuk karakter. Tidak cukup hanya cerdas secara akademik, siswa juga harus kuat secara spiritual dan berakhlak,” tegas Nuraeni.
Selama kegiatan berlangsung, siswa mengikuti berbagai aktivitas keagamaan seperti tadarus Al-Qur’an bersama, salat Dhuha berjamaah, serta kajian dan sesi motivasi spiritual. Materi yang disampaikan berfokus pada pembentukan profil pelajar yang tidak hanya tangguh secara intelektual, tetapi juga kokoh dalam keimanan.
Menurut Nuraeni, pembiasaan ibadah menjadi salah satu tujuan utama dalam kegiatan ini. “Melalui tadarus dan salat berjamaah, kami ingin membangun kedisiplinan dalam beribadah. Sementara itu, sesi motivasi diarahkan untuk membentuk mental dan tanggung jawab siswa sebagai pelajar,” jelasnya.
Lebih dari sekadar kegiatan keagamaan, Pesantren Ramadan ini juga menjadi wadah refleksi diri bagi para siswa. Dalam sesi motivasi, peserta diajak untuk memahami peran generasi muda dalam menghadapi tantangan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai agama sebagai landasan utama.



