Malang, 27 Agustus 2026 — Transformasi pembelajaran berawal dari perubahan cara pandang. Dengan semangat tersebut, SMAN 8 Malang melaksanakan kegiatan Implementasi Penguatan Pola Pikir dan Inkuiri Kolaboratif serta Growth Mindset yang diikuti oleh seluruh guru SMAN 8 Malang.
Kegiatan ini menjadi bagian dari langkah satuan pendidikan dalam membangun budaya belajar yang positif, terbuka terhadap perubahan, serta mendorong guru untuk terus bertumbuh melalui refleksi dan kolaborasi.
Memulai dari Pemetaan Growth Mindset

Kegiatan diawali dengan pemaparan oleh Kepala SMAN 8 Malang, Nuraeni, M.Pd. Dalam sesi tersebut, Kepala Sekolah menyampaikan skema dan program sekolah yang berkaitan dengan penguatan pola pikir serta implementasi transformasi pembelajaran.
Tidak hanya menjelaskan arah program, sesi ini juga menghadirkan gambaran mengenai hasil pemetaan Growth Mindset warga sekolah. Hasil pemetaan tersebut menjadi salah satu pijakan untuk melihat kondisi awal dan menentukan langkah penguatan yang perlu dilakukan secara bersama-sama.
Dengan demikian, penguatan Growth Mindset tidak ditempatkan sebagai konsep yang berdiri sendiri, tetapi menjadi bagian dari strategi sekolah dalam membangun kapasitas warga satuan pendidikan.
Pengawas Membimbing MGMPS Menemukan Masalah Pembelajaran
Tahap berikutnya diisi dengan pendampingan dan penguatan dari Pengawas Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Malang (Kota Malang–Kota Batu), yaitu Drs. Agus Hariyono, M.M. dan Virginia Rooselyne P., S.Pd.
Pendampingan diarahkan agar setiap MGMPS tidak berhenti pada diskusi tentang konsep, tetapi mampu melihat secara lebih dekat berbagai persoalan yang benar-benar terjadi dalam proses pembelajaran.
Para pengawas membimbing MGMPS untuk melakukan identifikasi dan menemukan permasalahan pembelajaran yang nyata, kemudian menganalisisnya dengan berpedoman pada Standar Kompetensi Lulusan (SKL) sebagaimana diatur dalam Permendikdasmen Nomor 10 Tahun 2025. Regulasi tersebut menjadi salah satu landasan penting dalam melihat arah capaian kompetensi yang perlu dikembangkan pada murid.
Pendekatan ini mendorong setiap MGMPS untuk tidak sekadar bertanya “Apa yang akan kami ajarkan?”, tetapi juga:
“Masalah pembelajaran apa yang sedang kami hadapi, mengapa hal itu terjadi, dan perubahan apa yang perlu kami lakukan agar capaian murid menjadi lebih baik?”
Pertanyaan tersebut menjadi pintu masuk bagi pelaksanaan Inkuiri Kolaboratif.
Belajar dari Praktik MGMPS Informatika–KKA

Sebagai contoh praktik, Ketua KKS, Yudhi Christianto, M.Kom., bersama tim MGMPS Informatika–KKA memaparkan hasil Inkuiri Kolaboratif yang telah dilakukan.
Praktik tersebut menjadi contoh konkret bagaimana sebuah MGMPS dapat bersama-sama mengidentifikasi permasalahan pembelajaran, melakukan refleksi, mencari alternatif solusi, dan merancang langkah tindak lanjut berdasarkan kondisi nyata yang ditemukan.
Melalui praktik tersebut, guru tidak hanya memperoleh pemahaman secara teoritis, tetapi juga mendapatkan gambaran bagaimana Inkuiri Kolaboratif dapat diterapkan dalam konteks masing-masing rumpun mata pelajaran.
Setiap MGMPS Melakukan Inkuiri Kolaboratif

Setelah mendapatkan penguatan dan contoh praktik, seluruh guru diarahkan untuk melakukan proses yang sama melalui MGMPS masing-masing.
Setiap MGMPS melakukan identifikasi permasalahan pembelajaran yang dihadapi, mendiskusikannya secara kolaboratif, mengaitkannya dengan arah capaian yang diharapkan, serta merancang langkah perbaikan yang dapat dilakukan.
Dengan pola ini, setiap MGMPS memiliki ruang untuk menemukan persoalannya sendiri sesuai karakteristik mata pelajaran dan kebutuhan murid.
Hasil proses Inkuiri Kolaboratif dari masing-masing MGMPS selanjutnya dikumpulkan kepada tim Kurikulum untuk menjadi bahan dalam proses supervisi dan tindak lanjut program pembelajaran.
Langkah tersebut menjadi penting karena hasil diskusi MGMPS tidak berhenti sebagai dokumen kegiatan, tetapi diharapkan menjadi data dan bahan refleksi untuk melihat kebutuhan nyata dalam pembelajaran serta menentukan dukungan yang diperlukan oleh guru.
Dari Growth Mindset Menuju Perubahan Nyata
Rangkaian kegiatan ini menunjukkan bahwa perubahan pembelajaran tidak cukup dilakukan melalui instruksi dari atas, tetapi perlu dibangun melalui kesadaran, refleksi, kolaborasi, dan aksi nyata.
Growth Mindset menjadi fondasi agar guru memiliki keberanian untuk melihat masalah sebagai peluang untuk berkembang. Sementara itu, Inkuiri Kolaboratif menjadi cara untuk bersama-sama menemukan solusi berdasarkan permasalahan nyata yang terjadi dalam pembelajaran.
Melalui proses tersebut, SMAN 8 Malang terus mendorong terbentuknya budaya satuan pendidikan yang:
terbuka terhadap perubahan, berani berefleksi, mau berkolaborasi, dan terus bertumbuh.
Pada akhirnya, tujuan dari seluruh rangkaian ini bukan sekadar menghasilkan dokumen Inkuiri Kolaboratif, tetapi menghadirkan perubahan nyata dalam praktik pembelajaran.
Karena transformasi pendidikan dimulai ketika guru berani melihat kembali praktiknya, bersama-sama menemukan apa yang perlu diperbaiki, dan bergerak melakukan perubahan.
Bersama Bergerak. Bersama Bertumbuh. Bersama Bertransformasi.
SMAN 8 Malang — Berkolaborasi, Berdaya, Berdampak.